-->

Ad Unit (Iklan) BIG

Makalah Agama; Hal-hal Yang Membatalkan Dua Kalimat Syahadat

Post a Comment

  


BAB  I
PENDAHULUAN
 
Syahaadatain atau dua kalimat syahadat merupakan kalimat yang sudah tidak asing lagi bagi umat Islam. Kita selalu menyebutnya setiap hari, misalnya ketika shalat dan adzan dan sering diucapkan oleh umat Islam dalam pelbagai keadaan. Umumnya kita menghafal dua kalimat syahadat dan dapat menyebutnya dengan fasih, namun yang menjadi pertanyaan sejauh manakah makna dari kalimat ini dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari umat Islam?
Masalah tersebut perlu dijawab dengan kenyataan yang ada. Tingkah laku umat Islam yang terpengaruh dengan jahiliyah atau cara hidup Barat yang memberi gambaran bahwa syahadat tidak memberi pengaruh pada dirinya seperti tidak menutup aurat, melakukan perkara yang dilarang dan meninggalkan yang diperintah-Nya, memberi kesetiaan dan taat bukan kepada Islam, dan mengingkari rezeki atau tidak menerima sesuatu yang dikenakan kepada dirinya. Contoh ini adalah wujud dari seseorang yang tidak memahami syahadat yang dibacanya dan tidak mengerti makna yang sebenarnya dibawa oleh syahadat tersebut.
Kalimat syahadat merupakan pilar utama dan landasan penting bagi rukun Islam. Tanpa syahadat maka rukun Islam lainnya akan runtuh begitu pula dengan rukun Iman. Tegaknya syahadat dalam kehidupan seorang individu maka akan menegakkan ibadah dan agama dalam hidup kita. Dengan syahadat maka wujud sikap ruhaniah yang akan memberikan motivasi kepada tingkah laku fisik dan akal pikiran serta memotivasi kita untuk melaksanakan rukun Islam lainnya.
Menegakkan Islam maka harus menegakkan rukun Islam terlebih dahulu, dan untuk tegaknya rukun Islam maka mesti tegak syahadat terlebih dahulu. Rasulullah SAW mengisyaratkan bahwa Islam itu bagaikan sebuah bangunan. Untuk berdirinya bangunan Islam itu harus ditopang oleh 5 (lima) tiang pokok yaitu syahaadatain, shalat, puasa, zakat dan haji ke Baitullah.
 
BAB II
PEMBAHASAN
 
Makna syahadat la ilaha illallah adalah meyakini bahwa tidak ada yang berhak mendapatkan ibadah kecuali Allah, konsisten dengan pengakuan itu dan mengamalkannya. La ilaha menolak keberhakan untuk diibadahi pada diri selain Allah, siapapun orangnya. Sedangkan illallah merupakan penetapan bahwa yang berhak diibadahi hanyalah Allah. Sehingga makna kalimat ini adalah la ma’buda haqqun illallah atau tidak ada sesembahan yang benar selain Allah. Sehingga keliru apabila la ilaha illallah diartikan tidak ada sesembahan/tuhan selain Allah, karena ada yang kurang. Harus disertakan kata ‘yang benar’ Karena pada kenyataannya sesembahan selain Allah itu banyak. Dan kalau pemaknaan ‘tidak ada sesembahan selain Allah’ itu dibenarkan maka itu artinya semua peribadahan orang kepada apapun disebut beribadah kepada Allah, dan tentu saja ini adalah kebatilan yang sangat jelas.[1]
Seseorang dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, berarti telah mempersaksikan diri sebagai hamba Allah semata. Kalimat Lailaaha Illallahu dan Muhammadur Rasulullah selalu membekas dalam jiwanya dan menggerakkan anggota tubuhnya agar tidak menyembah selain-Nya. Baginya hanya Allah sebagai Tuhan yang harus ditaati, diikuti ajaran-Nya, dipatuhi perintah-Nya dan dijatuhi larangan-Nya.[2] Caranya bagaimana, lihatlah pribadi Rasulullah SAW sebab dialah contoh hamba Allah sejati, sebagaimana telah Allah deklarasikan dalam QS al Israa” ayat 1.
Artinya : “Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya, agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”
 
Jadi, bagi seorang hamba, tidak ada pilihan kecuali mencontohi pribadi Rasulullah SAW, sehingga makna dua kalimat syahadat yang intinya tauhid dapat benar-benar tercermin dalam jiwa dan perbuatan dari segala sisi kehidupannya.
Untuk menjaga kemurnian tauhid, hendaknya menghindar dari hal-hal yang merusak, yakni :
1.     Syirik (menyekutukan Allah)
Syirik adalah lawan kata dari tauhid. Syirik merupakan sikap menyekutukan Allah secara dzat, sifat, perbuatan dan ibadah. Syirik secara dzat adalah meyakini dzat Allah sama seperti dzat makhluk-Nya, syirik secara sifat adalah meyakini sifat Allah sama seperti sifat makhluk, syirik secara perbuatan adalah meyakini yang diperbuat Allah selama ini sama seperti makhluk mengatur alam semesta dan syirik secara ibadah adalah menyembah dan mengagungkan selain dari Allah.
Bentuk-bentuk syirik, yaitu :
1)    Menyembah patung atau berhala (al ashnaam)
2) Menyembah matahari
3) Menyembah malaikat dan jin
4) Menyembah para nabi, seperti Nabi Isa as. yang disembah kaum Nasrani dan Uzair yang disembah kaum Yahudi.
5) Menyembah rahib atau pendeta
6) Menyembah thaghuut
7) Menyembah hawa nafsu

Macam-macam syirik, yaitu :
1)     Syirik Besar (asy syirkul akbar), yaitu tindakan menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya. dikatakan syirik besar karena dengannya seseorang tidak akan diampuni dosanya dan tidak akan masuk   surga.
2)     Syirik Kecil (asyirkul ashghar), yaitu suatu tindakan yang mengarah kepada syirik, tetapi belum sampai ke tingkat keluar dari tauhid, hanya saja mengurangi kemurniannya. Syirik kecil ini dibagi dalam dua dimensi, yakni :
a.       Dzahir, bisa berupa lafal(pernyataan) dan perbuatan, contoh bersumpah dengan nama selain Allah.
b.      Khafiy, biasanya niat atau keinginan, contoh riya’ dan sum’ah (melakukan tindakan ketaatan kepada Allah dengan niat ingin dipuji orang lain)
Bahaya-bahaya syirik, yaitu :
1)     Syirik adalah kedzaliman yang nyata
2)     Syirik merupakan sumber khurafat (meyakini selain Allah)
3)     Syirik sumber ketakutan dan kesengsaraan.
4)     Syirik merendahkan derajat manusia.
5)     Syirik menghancurkan kecerdasan manusia.
6)     Di akhirat nanti orang-orang musyrik tidak akan mendapatkan ampunan Allah.
Sebab-sebab syirik, yaitu :
1)     Al jahlu (kebodohan)
2)     Dhuful iimaan (lemahnya iman)
3)     Taqliid (taklid buta)
 
2.     Al Ilhaad (menyimpang dari kebenaran)
Arti al ilhaad menurut para ulama diantaranya Al Farra’ mengatakan bahwa kata yulhiduun atau yalhaduun artinya condong kepadanya. Imam Al Harrani dari Ibn Sikkit mengatakan al mulhid artinya menyimpang dari kebenaran dan memasukkan sesuatu yang lain kepadanya. Dalam Lisanul Arab dikatakan al ilhaad artinya menyimpang dari maksud yang sebenarnya. Meragukan Allah juga termasuk ilhaad.
Jadi, istilah ilhaad pada hakikatnya untuk segala tindakan yang menyimpang dari kebenaran, tetapi secara definitif ia lebih khusus digunakan untuk sikap menafikan (tidak percaya) adanya sifat-sifat, nama-nama dan perbuatan Allah.
Bahaya-bahaya ilhaad, yaitu :
1)     Bahwa para ulama sepakat bahwa tauhid mempunyai tiga dimensi : (a) tauhid uluhiyah, (b) tauhid rububiyyah dan (c) tauhid asma’ dan sifat. Mengingkari salah satu dari dimensi tauhid adalah kafir.
2)     Bahwa dengan menafikan sifat-sifat dan nama-nama Allah berarti ia telah mengingkari ayat-ayat Al Qur’an yang menegaskan adanya nama-nama dan sifat-sifat Allah. Mengingkari satu ayat dari Al Qur’an adalah kafir.
3)     Bahwa mengingkari perbuatan Allah berarti mengingkari segala wujud di alam ini  sebagai ciptaan-Nya. Mengingkari kekuasaan Allah adalah kafir.
 
3.     An Nifaaq (Wajahnya Islam, Hatinya Kafir)
Nifaaq (munafiq) menurut Imam al Ashfahani, diambil dari kata an nafaq artinya jalan tembus. Dalam pengertian ini kata an nifaaq digunakan sebab orang-orang munafik ketika bertemu dengan orang-orang Islam mereka suka menampakkan dirinya sebagai muslim, dan ketika bertemu dengan kawannya sesama kafir, mereka kembali lagi ke  wajah mereka yang asli sebagai orang-orang kafir.
Ciri-ciri orang munafiq, yaitu :
a.       Di mulut mereka mengatakan beriman kepada Allah dan hari kiamat, sementara hati mereka kafir.
b.      Ketika dikatakan kepada mereka agar jangan berbuat kerusakan, mereka mengaku berbuat baik.
c.       Ketika bertemu dengan orang-orang beriman mereka menampakkan keimanan, tetapi ketika kembali ke kawan-kawan mereka sesama syetan mereka kembali kafir.
d.      Ibarat orang berbisnis mereka sedang membeli kekafiran dengan keimanan. Sebab setiap saat wajah mereka berganti-ganti tergantung dengan siapa mereka pada saat itu sedang bersama-sama.
e.       Ibarat pejalan dalam kegelapan, setiap kali mereka menyalakan obor, seketika obor itu padam kembali
f.        Ibarai orang-orang yang ketakutan mendengarkan petir saat hujan turun, mereka selalu menutup telinga karena takut kebenaran yang disampaikan Rasulullah Saw. Masuk ke hati mereka.
 
BAB III
PENUTUP
 
            Hal-hal yang   merusak kemurnian tauhid, yang secara singkat setidaknya ada tiga, yaitu syirik, ilhaad, dan nifaaq. masing-masing dari komponen tersebut  mempunyai tujuan sendiri, hanya saja syirik lebih mengarah kepada sikap menyekutukan Allah, sementara ilhaad lebih mengarah kepada sikap menafikan sifat, asma dan perbuatan Allah. Adapun nifaaq lebih mengarah kepada penampilan dengan wajah dua tetapi ujung-ujungnya adalah kekafiran.
 
KATA PENGANTAR
 
            Segala puji bagi Allah SWT, yang telah memberikan kekuatan kepada kami dalam menyelesaikan tugas makalah Agama.
Makalah Kelompok IV ini berjudul “HAL-HAL YANG MEMBATALKAN DUA KALIMAT SYAHADAT”. Terselesainya makalah ini memang masih jauh dari kesempurnaan yang diharapkan. Untuk itu kami mengharapkan sumbangsih pemikiran yang konstruktif dari dosen mata kuliah Agama dan teman-teman  sekalian.
            Akhirnya, semoga makalah ini dapat bermanfaat.
 
 
Boalemo,   Oktober 2011
Penyusun
 
DAFTAR ISI
 
KATA PENGANTAR................................................................................................................            i
DAFTAR ISI.................................................................................................................................           ii
BAB I       PENDAHULUAN.................................................................................................           1
BAB II      PEMBAHASAN.....................................................................................................           2
1.      Syirik (Menyekutukan Allah).............................................................           3
2.      Al Ilhaad (Menyimpang dari Kebenaran)..................................           4 
3.      An Nifaaq (Wajahnya Islam, Hatinya Kafir).............................           5
BAB III    PENUTUP................................................................................................................           6
DAFTAR PUSTAKA
 
DAFTAR PUSTAKA
 
http://abu0mushlih.wordpress.com/2009/01/07/makna-dua-kalimat-syahadat/
 
Materi Tarbiyyah Tamhidi, madah Aqidah, pokok bahasan Nawaqidu Syahadatain
           
 

[1] http://abu0mushlih.wordpress.com/2009/01/07/makna-dua-kalimat-syahadat/
[2] Materi Tarbiyyah Tamhidi, madah Aqidah, pokok bahasan Nawaqidu Syahadatain


Related Posts

Post a Comment